Perkembangan Kurikulum Nasional dan Muatan Lokal


BAB I PENDAHULUAN

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.

Kebudayaan nasional yang didukung oleh berbagai nilai kebudayaan daerah yang luhur dan beradab yang merupakan nilai jati diri yang menjiwai perilaku manusia dan masyarakat dalam segenap aspek kehidupan, baik dalam lapangan industri, kerajinan, industri rumah tangga, jasa pertanian (argo industri dan argo bisnis), perkebunan, perikanan perternakan, pertaqnian holtikultura, kepariwisataan, pemeliharaan lingkungan hidup sehingga terjadi kesesuaian, keselarasan dan keseimbangan yang dinamis.

Kurikulum yang mangacu pada karakteristik peserta didik, perkembangan ilmu dan teknologi pada zamannya juga mengacu kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Penyusunan kurikulum atas dasar acuan keadaan masyarakat tersebut disebut “Kurikulum Muatan Lokal“. Kurikulum muatan lokal keberadaan di Indonesia telah dikuatkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987. Sedang pelaksanaannya telah dijabarkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan menengah Nomor 173/-C/Kep/M/87 tertanggal 7 Oktober 1987.

BAB II KAJIAN MATERI

I.            PERKEMBANGAN KURIKULUM NASIONAL

Perubahan kurikulum, dalam arti pengembangan, tentu akan berdampak terhadap kesiapan sekolah dan guru untuk mengimplementasikan di depan kelas. Mekanisme pengembangan kurikulum dapat dilakukan sebagai contoh, seorang guru yang akan mengembangkan kurikulum dituntut menguasai manajemen pengembangan kurikulum. Dalam mengembangkan kurikulum, setidaknya guru akan menemui delapan problem sebagai berikut :

  • Pertama, bagaimana membatasi ruang lingkup atau keluasan materi.
  • Kedua, bagaimana mengaitkan relevansi materi dengan kompetensi yang dibutuhkan.
  • Ketiga, bagaimana memilih materi agar ada keseimbangan untuk peserta didik maju dan yang lamban belajar, keseimbangan antara tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
  • Keempat, bagaimana mengintegrasikan materi yang satu dengan materi lainnya sehingga tidak terjadi duplikasi.
  • Kelima, bagaimana mengurutkan materi dan kompetensi yang diperlukan.
  • Keenam, bagaimana agar materi atau kompetensi berkesinambungan dan berjenjang.
  • Ketujuh, bagaimana merealisasikan artikulasi materi atau kompetensi secara menyeluruh.
  • Terakhir, bagaimanakah materi atau kompetensi yang diberikan dapat menjangkau masa depan alias memiliki daya guna bagi kehidupan peserta didik.

A.    Hakikat Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Oleh karena begitu pentingnya fungsi dan peran kurikulum, maka setiap pengembangan kurikulum pada jenjang manapun harus didasarkan pada asas-asas tertentu. Orientasi pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut enam aspek, yaitu:

  1. Tujuan pendidikan menyangkut arah kegiatan pendidikan. Artinya, hendak dibawa ke mana siswa yang kita didik itu.
  2. Pandangan tentang anak : apakah anak dianggap sebagai organisme yang aktif atau pasif.
  3. Pandangan tentang proses pembelajaran : apakah proses pembelajaran itu dianggap sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah perilaku anak.
  4. Pandangan tentang lingkungan : apakah lingkungan belajar harus dikelola secara formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar.
  5. Konsepsi tentang peranan guru : apakah guru harus berperam sebagai instruktur yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang siap member bimbingan dan bantuan pada anak didik untuk belajar.
  6. Evaluasi belajar : apakah mengukur keberhasilam ditentukan dengan tes atau nontes.

B.     Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

  1. Prinsip Relevansi

Kurikulum merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan prinsip relevansi. Ada dua macam relevansi, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi, atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metodeyang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.

  1. Prinsip Fleksibilitas

Apa yang diharapkan dalam kurikulum ideal kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi kenyataan yang ada. Bisa saja ketidaksesuaian itu ditunjukkan oleh kemampuan guru yang kurang, latar belakang atau kemampuan dasar siswa, yang rendah, atau mungkin sarana dan prasarana yang ada di sekolah tidak memadai. Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan. Prinsip fleksibilitas memiliki dua sisi, yaitu :

  • Pertama, fleksibel bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengna kondisi yang ada.
  • Kedua, fleksibel bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.
  1. Prinsip Kontinuitas

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan.

  1. Efektifitas

Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektifitas dalam suatu pengembangan kurikulum.

  1. Efisiensi

Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.

C.    Landasan Pengembangan Kurikulum

Ada tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni landasan filosofil, psikologis, dan landasan sosiologis-teknologis. Ketiga landasan tersebut diuraikan di bawah ini :

  1. Landasan Filosofi dalam Pengembangan Kurikulum

Filsafat berasal dari kata Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Sophia”. Philos, artinya cinta yang mendalam dan Sophia adalah kearifan atau kebijaksanaan.

  1. Landasan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum

Secara psokologis, anak didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan minat, bakat, maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dengan alasan itulah, kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan dan belajar anak.

  1. Landasan Sosiologis – Teknologis dalam Pengembangan Kurikulum

Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar mereka dapat berperan aktif di masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum sebagai alat dan pedoman dalam proses pendidikan di sekolah harus relevan dengan tuntuan masyarakat. Dengan demikian dalam konteks ini, sekolah bukan hanya berfungsi untuk mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat, akan tetapi juga sekolah berfumngsi untuk mempersiapkan anak didik falam kehidupan masyarakat. Oleh Karena itu, kurikulum bukan hanya berisi berbagai nilai suatu masyarakat akan tetapi bermuatan segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.

D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum

Masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki keragaman sosial, budaya, aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi. Keragaman tersebut berpengaruh langsung terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan kurikulum, kemampuan sekolah dalam menyediakan pengalaman belajar, dan kemampuan siswa dalam berproses dalam belajar serta mengolah informasi   menjadi sesuatu yang dapat diterjemahkan sebagai hasil belajar. Keragaman itu menjadi suatu variabel bebas yang memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap keberhasilan kurikulum baik sebagai proses maupun kirikulum sebagai hasil. Oleh karena itu, keragaman tersebut harus menjadi faktor yang diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi kurikulum, dan pelaksanaan kurikulum. Pengembangan kurikulum di Indonesia harus didasarkan pada faktor-faktor keragaman sosial budaya secara nasional, lingkungan unit pendidikan, dan kebudayaan daerah.

  1. Keragaman sosial budaya nasional menjadi dasar dalam mengembangkan berbagai komponen kurikulum seperti tujuan, konten, proses, dan evaluasi;
  2. Lingkungan unit pendidikan yaitu guru, sumber belajar dan objek belajar yang merupakan bagian dari kegiatan belajar siswa;

E.     Tujuan Kelembagaan (Institusional Purpose)

Tujuan kelembagaan sama artinya dengan visi dan misi sekolah. Pengembangan kurikulum selamanya harus sejalan dengan visi dan misi sekolah yang bersangkutan, karena kurikulum pada hakikatnya disusun untuk mencapai tujuan sekolah. Setiap jenis sekolah akan memiliki visi dan misi yang berbeda. Jenis sekolah kejuruan, misalnya akan berbeda dengan sekolah umum. Sekolah kejuruan yang memiliki visi dan misi untuk memersiapkan anak didik memiliki keterampilan sesuai dengan lapangan pekerjaan tertentu, maka mengembangkan isi kurikulum akan lebih tepat dilakukan melalui analisis pekerjaan (job analysis), bukan melalui analisis disiplin ilmu. Sebaliknya, sekolah yang memiliki visi dan misi untuk mempersiapkan anak didik dapat mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, maka analisis disiplin ilmu, seperti pemahaman fakta, konsep teori dan sebagainya, akan lebih cocok dibandingkan dengan penentuan isi kurikulummelalui analisis tugas atau analisis pekerjaan. Dengan demikian, visi dan misi sekolah harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan isi kurikulum. Sehingga, pengalaman belajar yang dilakukan siswa di sekolah, akan menjamin pencapaian tujuan sekolah yang bersangkutan.

 

II.            PERKEMBANGAN MUATAN LOKAL

A.    Pengertian Muatan Lokal

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada, puskur (2006). Substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. Muatan lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang terdapat pada Standar Isi di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Keberadaan mata pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan mata pelajaran muatan lokal mendukung dan melengkapi mata pelajaran yang lain.

Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal dapat dilaksanakan secara berkesinambungan sesuai dengan kompetensi yang dicapai.

B.     Pengembangan Muatan Lokal

Pemberlakuan KTSP membawa implikasi bagi sekolah dalam melaksanakan KBM sejumlah mata pelajaran, dimana hampir semua mata pelajaran sudah memiliki Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk masing-masing pelajaran. Sedangkan untuk Mata Pelajaran Muatan Lokal yang merupakan kegiatan kurikuler yang harus diajarkan di kelas tidak mempunyai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya. Hal ini memberikan peluang kepada Satuan Pendidikan untuk menyusun dan mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran Muatan Lokal bukanlah pekerjaan yang mudah, oleh karena itu perlu dipersiapkan berbagai hal untuk dapat mengembangkan Mata Pelajaran Muatan Lokal Ada dua pola pengembangan. Langkah-langkah yang dapat ditempuh sekolah yang belum mampu mengembangkan mata pelajaran muatan lokal antara lain yang dikemukakan dalam puskur (2006):

  1. Analisis Mata Pelajaran Muatan Lokal yang ada di sekolah. Apakah masih layak dan relevan Mata Pelajaran Muatan Lokal diterapkan di Sekolah?
  2. Bila Mata Pelajaran Muatan Lokal yang diterapkan di sekolah tersebut masih layak digunakan maka kegiatan berikutnya adalah mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
  3. Bila Mata Pelajaran Muatan Lokal yang ada tidak layak lagi untuk diterapkan, maka sekolah dapat menggunakan Mata Pelajaran Muatan Lokal dari sekolah lain atau dapat menggunakan Mata Pelajaran Muatan Lokal yang ditawarkan oleh Pemerintah Daerah setempat.

C.    Proses Pengembangan Muatan Lokal

Mata Pelajaran Muatan lokal pengembangannya sepenuhnya ditangani oleh sekolah dan komite sekolah yang membutuhkan penanganan secara profesional dalam merencanakan, mengelola, dan melaksanakannya. Dengan demikian di samping mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional, perencanaan, pengelolaan, maupun pelaksanaan muatan lokal memperhatikan keseimbangan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Penanganan secara profesional muatan lokal merupakan tanggung jawab pemangku kepentingan (stakeholders) yaitu sekolah dan komite sekolah. Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal oleh sekolah dan komite sekolah dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah

Kegiatan ini dilakukan untuk menelaah dan mendata berbagai keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Data tersebut dapat diperoleh dari berbagai pihak yang terkait di daerah yang bersangkutan seperti Pemda/Bappeda, Instansi vertikal terkait, Perguruan Tinggi, dan dunia usaha/industri. Keadaan daerah seperti telah disebutkan di atas dapat ditinjau dari potensi daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya, dan kekayaan alam. Kebutuhan daerah dapat diketahui antara lain dari:

  • Rencana pembangunan daerah bersangkutan termasuk prioritas pembangunan daerah, baik pembangunan jangka pendek, pembangunan jangka panjang, maupun pembangunan berkelanjutan (sustainable development);
  • Pengembangan ketenagakerjaan termasuk jenis kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan;
  • Aspirasi masyarakat mengenai pelestarian alam dan pengembangan daerahnya, serta konservasi alam dan pemberdayaannya.

2.   Menentukan fungsi dan susunan atau komposisi muatan lokal

Berdasarkan kajian dari beberapa sumber seperti di atas dapat diperoleh berbagai jenis kebutuhan. Berbagai jenis kebutuhan ini dapat mencerminkan fungsi muatan lokal di daerah, antara lain untuk :

  • Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah;
  • Meningkatkan keterampilan di bidang pekerjaan tertentu;
  • Meningkatkan kemampuan berwiraswasta;
  • Meningkatkan penguasaan bahasa Asing untuk keperluan sehari-hari;

3.  Menentukan bahan kajian muatan lokal

Kegiatan ini pada dasarnya untuk mendata dan mengkaji berbagai kemungkinan muatan lokal yang dapat dijadikan sebagai bahan kajian sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Penentuan bahan kajian muatan lokal didasarkan pada kriteria berikut :

  • Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik;
  • Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan;
  • Tersedianya sarana dan prasarana;
  • Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa;
  • Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan;
  • Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah;
  • Lain-lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan situasi daerah.

D.    Tujuan Pengembangan Muatan Lokal

Mata pelajaran muatan lokal bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai/aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional, puskur (2006). Lebih jelas lagi agar peserta didik dapat:

  1. Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya,
  2. Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya,
  3. Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
  4. Menyadari lingkungan dan masalah-masalah yang ada di masyarakat serta dapat membantu mencari pemecahannya.
  5. Mengetahui kurikulum muatan lokal apa saja yang telah dikembangkan oleh sekolah di masing-masing kota/kabupaten atau Provinsi.
  6. Mengetahui relevansi kurikulum muatan lokal yang dikembangkan dengan kondisi perkembangan kebutuhan masyarakat yang sesuai dengan potensi daerah masing-masing; sejauh mana kompetensi guru yang mengajarkan muatan lokal.

Petunjuk teknis ini disusun dengan tujuan memberikan acuan bagi:

  1. Satuan pendidikan dalam melakukan analisis potensi internal dan eksternal;
  2. Satuan pendidikan tentang mekanisme dan prosedur penentuan muatan lokal;
  3. Satuan pendidikan dalam melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan lokal melalui muatan lokal;
  4. Guru muatan lokal untuk mengembangkan SKL, SK, dan KD muatan lokal.

BAB III PENUTUP

I.            Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dijabarkan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Oleh karena begitu pentingnya fungsi dan peran kurikulum, maka setiap pengembangan kurikulum pada jenjang manapun harus didasarkan pada asas-asas tertentu.

Kurikulum yang mangacu pada karakteristik peserta didik, perkembangan ilmu dan teknologi pada zamannya juga mengacu kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Penyusunan kurikulum atas dasar acuan keadaan masyarakat tersebut disebut “Kurikulum Muatan Lokal“. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada, puskur (2006).

II.            Saran

Setelah dipertimbangkan bahwa pengembangan kurikulum dan muatan lokal sangat berpengaruh dalam pengembangan peserta didik juga, yang mana bahwa dalam pengembangan kurikulum dan muatan lokal jika dapat berjalan dengan baik dan sukses maka akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas pula. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum dan muatan lokal perlu mendapat perhatian khusus dan pertimbangan secara matang untuk kesiapan pendidikan nasional yang mengarah ke depan.

DAFTAR PUSTAKA

Pelaksanaan Manajemen Pemeliharaan Sarana dan Prasarana di SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya


BAB I PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Sarana dan prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalam pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya hal tersebut dapat dicapai apabila ketersedian sarana dan prasarana yang memadai disertai dengan pengelolaan secara optimal.

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan istilah KTSP dimana penerapan desentralisasi pengambilan keputusan, memberikan hak otonomi penuh terhadap setiap tingkat satuan pendidikan, untuk mengoptimalkan penyedian, pendayagunaan, perawatan dan pengendalian sarana dan prasarana pendidikan. Sekolah dituntut untuk memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kebutuhan sekolah menurut kebutuhan berdasarkan aspirasi dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan perundang undangan pendidikan nasional yang berlaku.

Untuk mewujudkan dan mengatur hal tersebut pemerintah melalui PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Selanjutnya PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan

Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolok ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta dilapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik  untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Bagi pengambil kebijakan di sekolah pemahaman tentang sarana dan prasarana akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana ia dapat berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal guna mencapai tujuan pendidikan.

B.     Rumusan Masalah

Bagaimana pelaksanaan manajemen sarana dan prasarana di SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya?

C.    Tujuan

Adapun tujuan yang diharapkan adalah :

  1. Mengetahui tentang manajemen sarana dan prasarana.
  2. Mengenali permasalahan yang dihadapi dalam implementasi pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
  3. Menyusun rencana tindak lanjut atau penyelesaian yang ada pada manajemen pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.

D.    Manfaat 

Adapun manfaat yang diharapkan adalah :

  1. Bagi Sekolah : Diharapkan bisa menjadi acuan bagi kepala sekolah dalam memberikan pembinaan terhadap petugas/pelaksana lapangan bahwa pemeliharaan sarana dan prasarana perlu diadakana secara benar dengan program perencanaan yang matang. Program perencanaan pemeliharaan ini bisa dijadikan kegiatan pemeliharaan secara terarah untuk dapat mempertahankan umur atau masa efektif dari penggunaan sarana dan prasarana sekolah itu sendiri. 
  2. Bagi Mahasiswa : Mahasiswa dapat mengetahui tentang manajemen pemeliharaan sarana dan prasarana dan mengenai gambaran nyata bidang ilmu manajemen pendidikan mengenai pengertian pemeliharaan sarana dan prasarana di SMP Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya.

E.     Ruang Lingkup

Hal ini dibatasai pada variabel yang akan diteliti yaitu manajemen pemeliharaan sarana dan prasaran sekolah mengenai perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah di SMP Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya.

F.     Sasaran Kegiatan

Lembaga yang dijadikan sasaran kegiatan magang Program Studi Manajemen Pendidikan Angkatan 2010 salah satunya berada di Yayasan Pesantren Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jalan Taman Bhaskara Utara Surabaya.

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.    Sarana dan Prasarana

Sarana adalah perangkat yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan, yang dimaksud sarana sekolah adalah (1) sumber belajar seperti: buku paket, buku pelengkap, buku referensi, buku bacaan, majalah, koran, modul, lembar kerjak, kaset Video, VCD, CD-ROM dan sebagainya. (2) Media pembelajaran seperti radio, cassette recorder,TV, OHP, Wireless, Slide Projector, LD/LCD/VCD/DVD Player, komputer dan sebagainya. (3) Sarana Informasi dan Teknologi (IT) seperti internet. Banyak kasus terjadi di beberapa sekolah yang mendapat bantuan proyek pengadaan fasilitas pendidikan misalnya:

  1. Peralatan rusak sebelum dipakai, karena sekolah tidak mempunyai tenaga ahli yang dapat mengoperasikan alat baru tersebut, sehingga alat yang baru itu dibiarkan kena debu, lembab dan akhirnya rusak.
  2. Peralatan laboratorium cepat rusak, karena banyak guru tidak mahir menggunakannya dan siswa sering coba-coba, sementara tenaga laboran tidak memiliki kemampuan merawatnya.
  3. Sekolah tidak mengalokasikan dana perawatan yang cukup, karena memang tidak ada program yang lengkap.
  4. Kamar mandi/WC kantor pimpinan sekolah selalu mendapat perawatan rutin setiap hari dan bahkan diberi bahan pengharum padahal pemakainya hanya 1 atau 2 orang, sementara kamar mandi/WC siswa dengan jumlah pemakai banyak jarang dibersihkan, sehingga ada sekolah yang kamar mandi/WC untuk siswa kotor berbau, bahkan kran bocor dibiarkan sampai berbulan-bulan dan tidak sedikit sekolah yang hanya mempunyai sumber air yang terbatas sehingga siswa sering tidak menyiram bekas buang air mereka. Tidak jelas siapa yang harus memeriksa, kepada siapa dilaporkan, kapan diganti, tersediakah cadangan kran di sekolah, dan sebagainya.

Prasarana adalah perangkat pendukung yang digunakan untuk menunjang suatu penyelenggaraan kegiatan. Sedangkan prasarana belajar adalah ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang BK, ruang TU, ruang OSIS, ruang kelas, laboratorium, kantin, koperasi, tempat ibadah, lapangan Olahraga, kamar mandi/WC.

Menurut Sasongko (2006:5.10) menyebutkan bahwa yang termasuk sarana dan prasarana pendidikan adalah alat peraga/alat praktek, laboratorium, perpustakaan, ruang keterampilan, ruang UKS, ruang Olah Raga, ruang kantor, ruang BP, gedung dan perabot.

B.     Perawatan atau Pemeliharaan Sarana dan Prasarana

Perawatan atau pemeliharaan adalah suatu usaha yang dilakukan dalam rangka meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan fasilitas dalam kondisi yang baik dan tetap berfungsi.

Menurut Soenarto (2002: 6) dalam buku pedoman manajemen perlengkapan sekolah, pemeliharaan atau perawatan adalah upaya untuk membuat kondisi sarana dan prasarana tetap terjaga dengan baik dan menghindari kerusakan yang terlalu dini. Dengan demikian peralatan yang terawat dengan baik akan mudah untuk dipakai dan dapat menghemat biaya pembelian barang baru.

Menurut Sarjiman (2002:4) dalam buku pelatihan Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana menyatakan bahwa perawatan atau pemeliharaan adalah merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka mempertahankan atau mengembalikan peralatan pada kondisi yang dapat diterima. Kondisi peralatan yang selalu dapat diterima tersebut dimaksudkan agar sarana atau fasilitas sekolah dalam keadaan siap pakai seoptimal mungkin, untuk meningkatkan unjuk kerja dan memperpanjang usia pakai, mengetahui adanya keruskan atay gejala kerusakan serta untuk menghindari terjadinya kerusakan lebih fatal.

Pemeliharaan peralatan dan fasilitas sekolah yang lainnya memang perlu dilakukan oleh setiap sekolah. Fasilitas yang selalu terawat dengan baik akan membuat pekerjaan berjalan dengan lebih lancar. Pekerjaan yang berjalan tanpa adanya kendala dibidang peralatan atau fasilitas lain tersebut akan mengefektifkan pekerjaan dalam upaya mencapai tujuan sekolah.

  1. Perawatan Terencana. Menurut (Soenarto 2002:4) menyatakan bahwa perawatan terencana adalah jenis perawatan yang diprogramkan, diorganisir, dijadwal, dianggarkan, dan dilaksanakan sesuai dengan rencana, serta dilakukan monitoring dan evaluasi. Perawatan terencana dibedakan menjadi dua, yakni perawatan terencana yang bersifat pencegahan atau perawatan preventif, dan perawatan terencana yang bersifat korektif. Menurut (Depdikbud, 1999:2) menyatakan bahwa perawatan preventif merupakan perawatan yang bersifat pencegahan, adalah perawatan sarana dan prasarana pendidikan yang secara sadar dilakukan melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta monitoring dengan tujuan untuk mencegah terjadinya gangguan kemacetan atau kerusakan fasilitas atau peralatan sekolah. Perawatan preventif adalah perawatan yang dilakukan pada selang waktu tertentu dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin dengan beberapa kriteria yang ditentukan sebelumnya dengan tujuan untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan suatu komponen tidak memenuhi kondisi normal. Perawatan korektif merupakan perawatan yang dilakukan terhadap sarana dan prasarana pendidikan yang secar sadar dilakukan melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta monitoring dengan tujuan untuk mengembalikan fasilitas atau peralatan pada kondisi standar, sehingga dapat berfungsi dengan normal.
  2. Perawatan Tidak Terencana. Menurut (Soenarto, 2002:4) menyatakan bahwa perawatan tidak terencana adalah jenis perawatan yang bersifat perbaikan terhadap kerusakan yang belum diperkirakan sebelumnya. Pekerjaan perawatan ini tidak direncanakan, tidak dijadwalkan. Umumnya tingkat kerusakan yang terjadi adalah pada tingkat keruskan berat. Karena tidak direncanakan sebelumnya, maka juga disebut perawatan darurat

C.    Perawatan Preventif

Menurut (Depdiknas, 2000: 205) menyatakan bahwa perawatan preventif adalah tindakan perawatan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik sekolah, seperti gedung, mebeler, dan peralatan sekolah lainnya dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efekti perawatan sarana dan prasarana sekolah

Menurut Soenarto (dalam Depdiknas, 2002:4) tujuan perawatan preventif adalah mencakup: (1) agar sarana dan prasarana pendidikan selalu dalam kondisi prima, tetap berfungsi dan siap dipakai secara optimal, (2) memperpanjang umur pemakaian, (3) menjamin kelancaran kegiatan pembelajaran, (4) menjamin keamanan dan kenyamanan bagi para pemakai, (5) mengetahui kerusakan secara dini atau gejala kerusakan, (6) menghindari terjadinya keruskan secara mendadak, (7) menghindari terjadinya kerusakan fatal.

Menurut (Depdikbud, 1999:4) disebutkan bahwa ada empat tujuan pokok perawatan preventif, yaitu untuk: (1) memperpanjang usia pakai perlatan. Hal ini sangat penting jika dilihat dari aspek biaya, karena untuk membeli satu peralatan akan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan merawat bagian dari peralatan tersebut, (2) menjamin peralatan selalu siap dan dalam kondisi optimal untuk mendukung kegiatan kerja, shingga diharapkan akan diperoleh hasil yang optimal pula; 3) menjamin kesiapan operasional peralatan yang diperlukan terutama dalam keadaan darurat, adanya unit cadangan, pemadam kebakaran, dan penyelamat; 4) menjamin keselamatan siswa yang menggunakan peralatan terebut.

D.    Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana Sekolah

  1. Pengertian manajemen

Menurut Soenarto (2002:5) menyatakan secara umum bahwa manajemen adalah proses pengelolaan sumber daya untuk mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien. Dalam penerapan manajemen ini lebih jauh dikatakannya bahwa sumberdaya yang dikelolah meliputi 6 M, yaitu: man, money, materials, machines, method, dan minutes (manusia, uang, bahan, mesin atau peralatan, metode atau cara, dan waktu). Sedangkan fungsi manajemen meliputi empat kegiatan, yaitu planning, organizing, actuating dan controlling (perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengontrolan). Dari definisi diatas dapat diartikan bahwa manajemen adalah sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengontrolan sumber daya manusia, biaya, bahan dan alat atau mesin, metode atau cara dan waktu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

Lebih jauh Soenarto (2002:5) menyatakan bahwa efektifitas merupakan landasan untuk mencapai sukses. Jadi efektifitas berkenaan dengan derajat pencapaian tujuan baik secara eksplisit maupun implisit, yaitu seberapa jauh rencana dapat dilaksanakan dan berapa jauh tujuan tercapai. Sedangkan Efisiensi merupakan sumberdaya minimal yang digunakan untuk mencapai kesuksesan tersebut. Jadi efisien berarti optimasi penggunaan sumber daya, yaitu termudah cara mengerjakannya, termurah biayanya, tersingkat waktunya, teringan bebannya, terpendek langkahnya.

Menurut (Sufyarma, 2003:190), dibidang pendidikan manajemen mempunyai pengertian sebagai proses kegitan bersama dalam bidang pendidikan dengan memanfaatkan semua fasilitas yang ada, baik personal, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan

Manajemen dalam lingkungan pendidikan adalah memberdayakan berbagai sumber baik manusia, sarana dan prasarana, serta media pendididkan lainnya secara optimal, relevan, efektif dan efisien guna menunjang pencapaian tujuan pendidikan.

Menurut Suryosubroto (2004:27) menyebutkan bahwa manajemen pendidikan adalah 1) bentuk kerja sama personel pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, 2) suatu proses yang merupakan daur (siklus) penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencanaan, pengorganisasin, pengarahan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian tentang usaha sekolah untuk mencapai tujuannya; 3) usaha untuk melakukan pengelolaan sistem pendidikan, 4) kegiatan memimpin, mengambil keputusan serta berkomunikasi dalam organisasi sebagai usaha untuk mencapai tujuan pendidikan. Koont O. Doncel (dalam Sagala, 2007:55) mengemukakan bahwa :

“Management is process of designing and maintaining an evironment in which individuals, working together in groups, efficiency accomplish selected aims. This basic definition needs to be expanded (1) as manager people carry out the managerial function of planning, organizing, staffing, leadingand controlling; (2) management applies to any kind of organization; (3) it applies to managers to all organizational level; (4) the aim of all managers is the same to create as surpluus; and (5) managing is concernid with productivity; this implies effectiveness and efficiency.”

Pengertian di atas mengandung arti bahwa manajemen adalah proses merencanakan dan mempertahankan lingkungan di mana individu dapat bekerja sama dalam kelompok, secara efisien dalam rangka mencapai tujuan. Pengertian ini memberi arti (1) sebagai manajer melaksanakan fungsi manajemen antara lain; perencanaan, pengorganisasian, pembagian staff, mengarahkan dan pengawasan; (2) menerapkan manajemen untuk perbaikan organisasi; (3) berlaku untuk manajer setiap level organisasi; dan (4) tujuan setiap manager adalah sama untuk mencapai surplus, dimana manajemen memberikan perhatian terhadap produktifitas dan etos kerja yang tinggi berimplikasi efectivitas dan efisiensi.

Uraian di atas menegaskan bahwa manajemen sekolah adalah proses memimpin dan membimbing penyelenggaraan pekerjaan sekolah sebagai suatu organisasi dalam mewujudkan tujuan pendidikan dan tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Karena itu prinsip-prinsip manajemen sekolah yang dapat dipegang adalah untuk memperoleh hasil yang paling efektif melalui orang-orang yang profesional mengacu pada visi dan misi sekolah dengan cara melakukan proses manajemen. Proses manajemen tersebut yaknimenjalankan fungsi pokok program sekolah yang ditampilkan oleh seorang pimpinan sekolah sebagai penanggung jawab institusi sekolah, guru sebagai penanggung jawab pelayanan belajar pada peserta didik, dan tenaga kependidikan sebagai penanggung jawab pelayanan teknis kependidikan di sekolah yang menerapkan fungsi-fungsi manajemen yaitu: perencanaan program kegiatan sekolah, pengorganisasian tugas-tugas pokok sekolah, penggerakkan seluruh sistem sekolah, dan pengawasan kinerja sekolah. Fungsi-fungsi manajemen tersebut di atas juga diterapkan dalam kegiatan bidang administrasi pendidikan bidang sarana dan prasarana di sekolah pada sub bagian pemeliharaan sarana dan prasarana.

  1. Obyek Pemeliharaan

Menurut Hornby (1990:849) mendefinisikan bahwa, “Object is solid thing that can be seen and touched.

Obyek adalah benda keras yang dapat dilihat dan disentuh. Dari definisi tersebut jelas bahwa obyek merupakan benda-benda yang digunakan sebagai alat atau bahan untuk mendukung suatu kegiatan agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan mudah dan sesuai harapan. Adapun obyek yang perlu dipelihara adalah sarana, prasarana atau fasilitas sekolah, antara lain bangunan gedung, peralatan kantor, listrik atau penerangan, meubeler, peralatan dan bahan praktikum.

BAB III PAPARAN DATA DAN HASIL MAGANG

A.    Paparan Data

Pelaksanaan magang di SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya di mulai dengan pengajuan surat permohonan izin magang pada hari Selasa tanggal 26 Maret 2013, dan dilanjutkan dengan melakukan observasi di minggu berikutnya dengan melakukan pengamatan langsung di seluruh aspek sekolah. Namun, diberlakukan peraturan bahwa observer hanya dibatasi 2 orang saja yang dapat melakukan observasi pada setiap minggunya. Sehingga pada minggu-minggu berikutnya, kami bergilir untuk melakukan observasi pada masing-masing bagian yang kami amati.

Manajemen sarana dan prasarana sekolah SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya ini dibawah naungan satu yayasan. Dalam satu yayasan ini terdapat tiga konsentrasi jenjang yaitu TK, SD, dan SMP. Jika ada kerusakan sarana dan prasarana pada salah satu jenjang sekolah maka jenjang sekolah yang bersangkutan membuat form pengaduan kerusakan untuk pengajuan dana kepada yayasan.

Terdapat program berkala dan program tidak berkala pada sistem manajemen perawatan sarana dan prasarana sekolah, yaitu penggolongan yang membutuhkan perawatan secara berkala (tiba-tiba) dan penggolongan yang membutuhkan perawatan bisa kapan saja.

B.     Hasil Magang

Berdasarkan magang yang telah dilakukan maka didapat hasil pemeliharaan sarana dan prasarana di SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya ini. Kami memberikan program kerja untuk pemeliharaan sarana dan prasarana berupa pengorganisasian kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, pelaksanaan dan pembiasaan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah  dan pendataan sarana dan prasarana sekolah (menggunakan form data sarana dan prasarana). Hal ini dimaksudkan untuk lebih menekankan pada aktifitas untuk mengurangi peluang sarana dan prasarana sekolah yang memerlukan perbaikan yang bersifat mendesak, memperkecil kebutuhan sarana dan prasarana yang memerlukan perawatan, dan memperkecil kemungkinan untuk pengeluaran dana.

 

BAB IV PEMBAHASAN

A.    Hasil Temuan

Dari hasil wawancara dan observasi langsung telah didapat hasil temuan lapangan yaitu mengenai pemeliharaan sarana dan prasarana di SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya meliputi : sekolah telah melakukan pelaksanaan pemeliharaan sarana dan prasarana berupa pemasangan poster-poster menarik di dinding sekolah dan sepanjang koridor yang berupa kata-kata mutiara untuk penyemangati siswa-siswi agar mau memperhatikan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, penulisan name tag dimasing-masing bangku siswa, ini dimaksudkan untuk menjadikan mereka bertanggung jawab atas bangkunya sendiri untuk tidak mencorat-coret sarana yang disediakan.

B.     Temuan Masalah

Masalah yang diangkat adalah kendala pengadaan dana dari yayasan jika ada sarana dan prasarana dari jenjang SMP yang memerlukan perawatan dan kebutuhan yang bersifat mendesak, namun yayasan lebih memperhitungkan pemberian dana pada TK terlebih dahulu kemudian SD dan terakhir SMP.

Berikutnya adalah masalah dari program kerja yang kurang detail dalam pembagian tugas serta sebagian besar guru tidak mau untuk diberi tugas tambahan menjadi tim koordinasi pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.

C.    Rencana Tindak Lanjut (RTL) dalam Bentuk Program Kerja

1.     Rencana Tindak Lanjut

Dari hasil temuan masalah di atas maka dapat diberlakukan rencana tindak lanjut yang kami buat yaitu :

  1. Penekanan pada aktifitas pemeliharaan sarana dan prasarana. Ini dimaksudkan untuk mengurangi peluang sarana dan prasarana sekolah yang memerlukan perbaikan yang bersifat mendesak.
  2. Pemeliharaan rutin kegiatan evaluasi sarana dan prasarana sekolah, yaitu mengevaluasi keadaan sekolah berupa pengisian form tertulis. Dimaksudkan agar diberlakukan pengecekan rutin setiap bulannya. Kegiatan ini akan memperkecil kebutuhan sarana dan prasarana yang memerlukan perawatan, tapi tidak lepas tanggung jawab kepada semua warga sekolah untuk terus memelihara sarana dan prasarana sekolahnya sendiri.
  3. Pengorganisasian kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah. Anggota meliputi siswa, para guru, kepala sekolah, komite sekolah bahkan warga masyarakat di sekitar sekolah.

2.      Program Kerja

a.      Penekanan Pada Aktifitas Pemeliharaan Sarana dan Prasarana

Supaya penerapan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah berjalan baik, maka disarankan untuk menggunakan tahapan langkah sebagaimana meliputi :

  1. Penyadaran pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah sebagai bagian dari Manajemen Aset.
  2. Pemahaman apa dan siapa yang terlibat pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah; obyek pemeliharaan (gedung dan komponennya), proses, persiapan, pelaksanaan dan monitoring-evaluasi pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
  3. Pengorganisasian kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah
  4. Pelaksanaan dan Pembiasaan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah
  5. Pendataan sarana dan prasarana sekolah (menggunakan form data sarana dan prasarana)

23

Sumber :  Petunjuk Teknis Pemeliharaan & Perawatan Aset Sarana-Prasarana Sekolah Bersama Masyarakat (Buku III) – Decentralized Basic Education (Dbe-1) – Usaid

 

Tahap I : Penyadaran Pentingnya Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Sekolah

  1. Langkah-1 Persiapan : Kepala sekolah mengundang Kelompok Kerja dan membentuk tim kecil untuk menginisiasi Pengantar Pemahaman Pentingnya “Pemeliharaan Sarana-Prasarana Sekolah” (PSPS) – (Perlu Karangka Acuan Kerja/KAK Tim PSPS) Kepala sekolah dan guru atau tim kecil yang ditunjuk mengenalkan Buku Panduan Pemeliharaan Sarana Prasarana Sekolah Menyusun program pengenalan dan penyadaran akan pentingnya Pemeliharaan ini.
  2. Langkah-2 Pengenalan dan Penyadaran Pentingnya Pemeliharaan dan Tanggung Jawab Bersama : Pengenalan dan Penyadaran kepada siswa dan guru: Sasarannya ialah untuk : (1) Menanamkan rasa memiliki atas sarana-prasarana yang ada. (2) Kebiasaan baik (mencegah lebih daripada harus memperbaiki karena terlanjur rusak). Dan (3) Mengenalkan lingkup kegiatan kebersihan (kelas dan lingkungan sekitar) pengaturan piket sebagai bagian dari proses belajar kepedulian pada kualitas lingkungan.

Menjelaskan manfaat yang diharapkan dari kegiatan pemeliharaan sarana-prasarana dan lingkungan sekolah antara lain mencakup : (1) Jika sarana-prasarana sekolah dan lingkungannya terpelihara baik, umur bangunan dan komponen-komponen bangunan akan awet, berarti tidak perlu mengadakan penggantian dalam waktu yang singkat. (2) Pemeliharaan yang dilakukan secara rutin, agar kerusakan komponen bangunan jarang terjadi, sehingga biaya perbaikan dapat ditekan seminimal mungkin. (3) Dengan adanya pemeliharaan yang baik, maka kondisi bangunan gedung akan terjaga penampilannya (tidak kumuh, kusam, tetap terlihat kokoh dan menarik), sehingga kesan bagi orang yang melihatnya akan memberikan rasa aman (tidak takut ambruk, kebocoran, terpeleset) dan nyaman untuk menggunakannya.

Tahap II : Pemahaman Tentang Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Sekolah

  1. Langkah-1. Menjelaskan permasalahan yang dihadapi. Menguraikan sumber penyebab masalah menurunnya kualitas aset sarana-prasarana sekolah yang diakibatkan oleh kebiasaan yang tidak tepat sebagaimana di bawah ini. Lanjutnya dengan mendiskusikannya.Permasalahan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana. Sebelum membahas tentang tindakan dalam Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Sekolah, hal yang penting diketahui ialah bahwa banyak masalah yang terjadi yang justru disebabkan oleh perilaku para pengguna gedung sekolah sendiri, sehingga pencegahan masalah ini seharusnya merupakan tindakan yang pertama dilakukan. Sekolah dan Lingkungannya adalah Aset milik Kita Bersama. Marilah kita jaga kebersihan dan kondisinya, dengan Menghindari Kebiasaan Kurang Baik di atas, Menerapkan Cara Penggunaan yang Baik, dan melaksanakan Kegiatan Pemeliharaan Aset Milik Kita Bersama ini sebagai Kebiasaan Sehari-hari. 
  2. Langkah-2 menjelaskan jenis dan lingkup kegiatan pemeliharaan. Jelaskan Jenis-jenis kegiatan pemeliharaan menurut waktu/frekuensi dan lingkup kegiatan untuk setiap jenis pemeliharaan tersebut. Sebagaimana diuraikan dalam Buku Pengertian dan Acuan Manajemen Sarana Prasarana Sekolah, kegiatan pemeliharaan menurut frekuensi/waktu pelaksanaannya dibagi dalam dua kelompok, yaitu: Kegiatan Pemeliharaan Rutin (Harian, Mingguan) dan Kegiatan Pemeliharaan Bulanan & Berkala.

3

Sumber :  Petunjuk Teknis Pemeliharaan & Perawatan Aset Sarana-Prasarana Sekolah Bersama Masyarakat (Buku III) – Decentralized Basic Education (Dbe-1) – Usaid

Kegiatan pemeliharaan rutin harian dan mingguan terutama ialah untuk memelihara kebersihan dengan menyapu, melap, mengepel dan sebagainya, disertai kegiatan meringkas dan merapikan, sehingga segala sesuatu (peralatan belajar, alat pembersih, dsb) berada pada tempat yang semestinya. Termasuk juga kegiatan mencatat kalau ada peralatan, sarana-prasarana yang menunjukkan tanda-tanda akan rusak, sehingga dari kegiatan ini dapat mengusulkan tindakan perawatan sejak dini. Kadang ini hanya memerlukan tindakan menggeser genteng atau membersihkan talang agar kebocoran dicegah.

Dengan adanya SARC (School Asset Report Card) sebagai hasil dari inventarisasi atas aset sarana prasarana sekolah maka tiap ruang kelengkapan sarana prasarananya sudah terdata. Sebaiknya copy dari SARC itu ditempel di tiap ruang, dan kepada peggunanya (siswa, guru) perlu menggunakan data tersebut untuk memotivasi kegiatan pemeliharaan rutin. Jangan sampai kerusakan sarana prasarana terjadi, apalagi kalau sampai ada yang hilang. Untuk itu penting agar baik dalam proses inventarisasi aset maupun dalam pemanfaatan SARC tersebut dilakukan proses sosialisasi kepada semua pemangku kepentingan, terutama untuk para pengguna yaitu siswa dan guru.

b.      Pemeliharaan Rutin Kegiatan Evaluasi Sarana dan Prasarana Sekolah

Pada pemeliharaan rutin kegiatan evaluasi sarana dan prasarana di sekolah ini maka perlu mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Langkah-1 Menyepakati jenis kegiatan yang dilaksanakan untuk Pemeliharaan Rutin (Harian, Mingguan). Jelaskan jenis dan lingkup kegiatan yang perlu dikerjakan dalam pemeliharaan gedung dan lingkungan sekolah. Pemeliharaan disini mencakup kegiatan, anatara lain: Membersihkan dan menjaga kebersihan semua komponen di dalam kelas, luar kelas dan lingkungannya Merapikan peletakan benda-benda, seperti meja, kursi, bangku, sapu, penggaris, kapur, alat tulis dan benda lainnya Saling mengingatkan untuk mnggunakan dan meletakkan alat atau komponen bangunan secara benar (parkir kendaraan pada tempatnya, menutup pintu tidak dibantig, tidak bermain dengan kunci, slot, dst) Mengisi formulir laporan kegiatan dan kondisi komponen yang ada.
  2. Langkah-2 Membagi tugas dan area Pemeliharaan harian/mingguan. Kegiatan pemeliharaan rutin merupakan sarana pendidikan kepada murid untuk selalu memelihara lingkungannya serta manfaat lain seperti: (1) Membangkitkan dan menanamkan rasa memiliki sekolah kepada murid. (2) Membina murid untuk belajar disiplin dengan cara yang efektif dan di terima oleh semua murid. (3) Memupuk rasa tanggung jawab, mencerminkan budaya kepada murid untuk menjaga dan memelihara keutuhan dan kebersihan dari lingkungan dan gedung sekolah. Tugas siswa (difasilitasi Guru) dan tugas penjaga sekolah, yaitu kepada murid disampaikan lebih jelas dan bertahap: Dijelaskan sekali lagi pentingnya kegiatan pemeliharaan rutin ini. Dijelaskan kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan dalam pemeliharaan. Dijelaskan standar pemeliharaan yang baik itu bagaimana (bersih seperti apa) Pembagian tugas dan penggiliran (Piket) disepakati pada tingkat kelas, difasilitasi oleh Guru atau Ketua Kelas, dan dipersilahkan untuk membagi regu piket sesuai jumlah kegiatan yang dilakukan, agar tiap siswa punya tugas yang jelas. Tugas guru dan kepala sekolah, yaitu kepada para guru dan kepala sekolah, disampaikan lebih jelas dan bertahap: Dijelaskan sekali lagi pentingnya kegiatan pemeliharaan rutin ini. Dijelaskan kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan dalam pemeliharaan oleh guru da kepala sekolah Dijelaskan standar pemeliharaan yang baik itu bagaimana (bersih seperti apa) Supaya banyak member contoh kepada siswa dan anak-anak pada umumnya. Tugas penjaga sekolah, yaitu kepada penjaga sekolah, seperti kepada murid, disampaikan lebih jelas dan bertahap: Dijelaskan sekali lagi pentingnya kegiatan pemeliharaan rutin ini. Dijelaskan kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan dalam pemeliharaan oleh Penjaga Sekolah. Dijelaskan standar pemeliharaan yang baik itu bagaimana (bersih seperti apa). 
  3. Langkah-3 Menjelaskan penggunaan Daftar Periksa (Simak) dalam pelaksanaan Pemeliharaan. Berikutnya disampaikan daftar periksa/simak yang dapat digunakan sebagai petunjuk teknis tentang komponen apa saja yang mesti ditangani pemeliharaannya. Formulir ini adalah contoh, untuk setiap sekolah sesuai dengan kondisi dan situasinya dapat disesuaikan dan disepakati. Apakah dilakukan sedikit modifikasi, pengurangan atau penambahan, serta diperjelas kegiatan yang sebaiknya dilakukan. Dan yang paling penting, pisahkan dahulu: Mana yang layak untuk dikerjakan oleh siswa berta guru sebagai fasilitatornya; Mana yang lebih layak untuk dikerjakan oleh Penjaga Sekolah.

Pada pemantauan kegiatan bulanan, meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Langkah-1 Menyepakati jenis kegiatan yang dilaksanakan untuk Pemeliharaan Bulanan dan Berkala.
  2. Langkah-2 Menyepakati siapa yang ditunjuk sebagai pelaksana kegiatan Pemeliharaan Bulanan dan Berkala Dikerjakan oleh pihak internal sekolah dan stakeholders Dikerjakan oleh tukang, pekerja (dikontrakkan) – proses penugasan (tender, penunjukan) Langkah-3 Menjelaskan penggunaan Daftar Periksa (Simak) dalam pelaksanaan Pemeliharan.

c.       Pengorganisasian Kegiatan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Sekolah

Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Langkah-1 Menyusun Struktur Organisasi, Kegiatan pemeliharaan gedung dan lingkungan sekolah merupakan kegiatan semua warga sekolah, baik para siswa, para guru, kepala sekolah, komite sekolah bahkan warga masyarakat di sekitar sekolah. Jadi bukan tugas penjaga sekolah saja, sebagaimana anggapan umum selama ini. Karena selain jumlah tenaga penjaga sekolah yang terbatas, berbagai permasalahan (uraian di atas) adalah menyangkut keterlibatan semua pihak. Untuk menerapkan pesan-pesan tersebut diatas, langkah pertama yang perlu dilakukan ialah menyusun organisasi dan pembagian kerja di antara para stekaholders. Di bawah ini adalah bentuk tipikal pengorganisasian kegiatan pemeliharaan gedung dan lingkungan sekolah berbasis masyarakat. Sebagaimana dibahas pada tahap sebelumnya, kegiatan pemeliharaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: pemeliharaan rutin atau harian yang bisa dilaksanakan oleh siswa, guru dan petugas; kedua, pemeliharaan berkala pada bagian yang sulit dijangkau seperti atap, saluran, serta yang membutuhkan tenaga (tukang) dari luar yang perlu dibayar. Untuk yang kedua ini diperlukan organisasi atau panitia tersendiri, yang sebaiknya dibentuk dan punya masa kerja yang cukup lama, paling tidak satu tahun.


2

Sumber : Petunjuk Teknis Pemeliharaan & Perawatan Aset Sarana-Prasarana Sekolah Bersama Masyarakat (Buku III) – Decentralized Basic Education (Dbe-1) – Usaid

Jadi setelah langkah memberikan pemahaman mengenai pentingnya “gedung dan lingkungan sekolah yang bersih, berkondisi baik”, serta menyadarkan bahwa “pemeliharaan sekolah adalah tanggung jawab bersama” karena sekolah adalah “milik bersama” siswa, guru, penjaga sekolah, kepala sekolah, warga lingkungan, maka berikutnya adalah mengorganisir kegiatan pemeliharaan.

Langkah penyusunan organisasi pemeliharaan ini ialah sebagai berikut:

  1. Mengadakan pertemuan dengan stakeholders Sekolah, yaitu: kepala sekolah, para guru, penjaga sekolah, wakil dari siswa, wakil dari komite sekolah, wakil dari warga
  2. Mengingatkan lagi akan pentingnya upaya bersama (gotong-royong) dalam pemeliharaan gedung dan lingkungan sekolah
  3. Menyampaikan lingkup tugas Pemeliharaan Rutin (Harian, Mingguan) dan Pemeliharaan Berkala kepada para hadirin
  4. Menunjukkan tipikal (pola) struktur organisasi Pemeliharaan, meminta pendapat untuk persetujuan atas struktur
  5. Membahas tugas, tanggung-jawab, wewenang (sebagaimana Tabel berikut) dan membacakan hasilnya
  6. Mendiskusikan siapa-siapa saja personil yang mengisi struktur organisasi tersebut
  7. Khusus untuk Pemeliharaan Rutin, dilanjutkan dengan membagi tugas atau area halaman yang jadi tanggung-jawab tiap kelas (untuk siswa dan guru kelas yang membimbing.
  8. Menyampaikan hasil pembagian tugas tersebut ke semua hadirin (pleno).

2.     Langkah-2 Melakukan Pembagian Peran/Tanggung-jawab. Serangkaian Tabel berikut ini adalah petunjuk teknis untuk menyusun uraian tugas dan tanggung jawab dan wewenang dari tiap posisi dalam organisasi pemeliharaan gedung dan lingkungan sekolah. Uraian dalam table ini bisa digunakan sebagai arahan untuk didiskusikan dan disepakati bersama seluruh stakeholder, serta kemungkinan modifikasi jika dibutuhkan.

BAB VI PENUTUP

A.    Simpulan

Manajemen sarana dan prasarana sekolah SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya ini dibawah naungan satu yayasan. Dalam satu yayasan ini terdapat tiga konsentrasi jenjang yaitu TK, SD, dan SMP. Jika ada kerusakan sarana dan prasarana pada salah satu jenjang sekolah maka jenjang sekolah yang bersangkutan membuat form pengaduan kerusakan untuk pengajuan dana kepada yayasan. Terdapat program berkala dan program tidak berkala pada sistem manajemen perawatan sarana dan prasarana sekolah, yaitu :

  1. Penggolongan yang membutuhkan perawatan secara berkala (tiba-tiba)
  2. Penggolongan yang membutuhkan perawatan bisa kapan saja

Dan dari hasil temuan masalah, maka dapat dirumuskan rencana tindak lanjutnya yaitu :

  1. Penenkanan pada aktifitas pemeliharaan sarana dan prasarana. Ini dimaksudkan untuk mengurangi peluang sarana dan prasarana sekolah yang memerlukan perbaikan yang bersifat mendesak.
  2. Pemeliharaan rutin kegiatan evaluasi sarana dan prasarana sekolah, yaitu mengevaluasi keadaan sekolah berupa pengisian form tertulis. Dimaksudkan agar diberlakukan pengecekan rutin setiap bulannya. Kegiatan ini akan memperkecil kebutuhan sarana dan prasarana yang memerlukan perawatan, tapi tidak lepas tanggung jawab kepada semua warga sekolah untuk terus memelihara sarana dan prasarana sekolahnya sendiri.
  3. Pengorganisasian kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah. Anggota meliputi siswa, para guru, kepala sekolah, komite sekolah bahkan warga masyarakat di sekitar sekolah.

B.     Saran

Sebagaimana disampaikan di depan, setiap sekolah bagaimanapun kondisinya tentu mempunyai aset yang seharusnya dikelola dengan baik. Aset sarana-prasarana sekolah dan lingkungannya merupakan wahana belajar yang perlu diperlakukan sebagai “amanah” yang perlu dikelola dengan baik. Saran yang dapat penulisan sampaikan adalah :

  1. Kegiatan rutin pemeliharaan, sebagai bagian dari manajemen sarana-prasarana sekolah dapat diharapkan agar nilai gunanya tidak merosot. Dan kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan oleh warga sekolah sendiri (siswa, guru, penjaga, komite sekolah, masyarakat sekitar) dapat menjadi wahana pembelajaran bagi seluruh warga dan pemangku kepentingan sekolah untuk peduli kapada kondisi lingkungan, serta wahana untuk memupuk semangat gotong-royong menjaga aset milik bersama tersebut.
  2. Pada bagian lain, kegiatan manajemen sarana-prasarana yang menyangkut kegiatan inventarisasi atau penyusunan data-base sarana-prasarana sekolah, penyusunan program pemeliharaan, perawatan, perbaikan dan pembangunan (kembali) gedung sekolah, perangkat dan lingkungannya. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi Dinas dalam menginventarisir dan memantau kondisi sarana-prasarana sekolah-sekolah di dalam wilayah kewenangannya. Sehingga memudahkan Dinas dalam merencanakan program/kegiatan perawatan dan perbaikan sarana-prasarana tersebut.

LAMPIRAN

Tabel 1. Formulir Pemantauan Kegiatan Pemeliharaan Sarana-Prasarana Sekolah Pemeliharaan Harian

Hari/Tanggal :
Penyelia (Supervisor) :
Tanda tangan :

No.

Pemeliharaan yang Dilakukan

Pelaksana Kelas

Kegiatan yang Dilakukan

Ket.

1.

Pemeliharaan ruang dalam/ selasar   Menggeser perabotan dalam ruangan, menyapu dan mengepel lantai  

2.

Pembersihan daun pintu dan jendela, permukaan kaca   Membersihkan daun pintu dan jendela kaca menggunakan lap/ kemucing  

3.

Pembersihan KM/WC dan saluran pembuangan   Membersihkan closet, menguras bak air, menggosok lantai dengan sikat, mengelontor lubang avour dan closet  

4.

Memeriksa penggunaan listrik   Mematikan lampu ruangan setelah ruangan tidak dipergunakan  

5.

Mengunci semua pintu dan jendela   Mengunci semua pintu dan jendela setelah kegiatan belajar mengajar berakhir demi keamanan ruangan dan isinya  

Tabel 2. Formulir Pemantauan Kegiatan Pemeliharaan Sarana-Prasarana Sekolah Pemeliharaan Mingguan

Minggu (Tgl…..s/d…..) Bulan/Tahun :
Penyelia (Supervisor) :
Tanda tangan :

No.

Pemeliharaan yang Dilakukan

Pelaksana Kelas

Kegiatan yang Dilakukan

Ket.

1.

Pemeliharaan ruang dalam/ selasar   Menggeser perabotan dalam ruangan, menyapu dan mengepel lantai  

2.

Pembersihan daun pintu dan jendela, permukaan kaca   Membersihkan daun pintu dan jendela kaca menggunakan cairan pembersih  

3.

Pembersihan KM/WC dan saluran pembuangan   Membersihkan closet, menguras bak air, menggosok lantai dengan sikat, mengelontor lubang saluran pembuangan  

4.

Pembersihan halaman dan saluran drainase   Menyapu halaman, mengumpulkan sampah berceceran, membersihkan saluran drainase dari sampah atau endapan tanah, potong ranting dan dedaunan pohon di sekitar bangunan, pangkas/ cabut rumput liar yang tumbuh di halaman  

5.

Pemeriksaan kondisi halaman dan sekitar bangunan   Memeriksa kondisi tanah yang ada di sekitar pondasi bangunan apakah mengalami erosi/tidak. Memastikan bahwa tanah di sekitar tidak terdapat sarang rayap yang akan berpengaruh terhadap komponen kayu bangunan dan pondasi  

Tabel 3. Formulir Pemantauan Kegiatan Pemeliharaan Sarana-Prasarana Sekolah Pemeliharaan Berkala

Bulan/Semester  (…../…..) Tahun :
Penyelia (Supervisor) :
Pelaksana :
Tanda tangan :

No.

Pemeliharaan yang Dilakukan

Hari

Permasalahan

Kegiatan yang Dilakukan

1.

Pemeriksaan bangunan gedung dan kelengkapan komponen bangunan    
  1. Memeriksa kondisi penutup atap, rangka atap dan planfond dan eternity, terisi dan talang seluruh keliling bangunan, listplank dan kerpus
   
  1. Memeriksa kosen, daun pintu dan jendela, kaca, penggantung dan pengunci partisi
   
  1. Memeriksa kondisi plesteran dan sponegan dinding, permukaan lantai
   
  1. Memeriksa kondisi instalasi mekanikal dan elektrikal
   
  1. Memeriksa kondisi kelengkapan KM/WC. Sumber air bersih, septic tank dan peresapan

2.

Pemeriksaan kondisi halaman dan sekitar bangunan    
  1. Memotong pepohonan, memusnahkan sarang serangga/rayap
   
  1. Pemeriksaan kondisi halaman, pagar halaman, jalan setapak, paving halaman, saluran drainase

Tabel 4. Formulir Pemantauan Kegiatan Pemeliharaan Sarana-Prasarana Sekolah Pemeliharaan Bulanan

No.

Pemeliharaan yang Dilakukan

Minggu Ke-

Permasalahan

Kegiatan yang Dilakukan

1.

      Memeriksa kondisi plesteran dan sponegan dinding, permukaan lantai

2.

      Memeriksa kondisi instalasi mekanikal dan elektrikal

DAFTAR RUJUKAN

Decentralized Basic Education (Dbe-1) – Usaid. 2010. Petunjuk Teknis Pemeliharaan & Perawatan Aset Sarana-Prasarana Sekolah Bersama Masyarakat (Buku III). Jakarta

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Buku Pelatihan Manajemen Perawatan PreventifJakarta

Marizadenia. 2012. Manajemen Pemeliharaan Sarana dan Prasarana, (Online), (http://ms-marizadenia.blogspot.com/2012/01/manajemen-pemeliharaan-sarana-dan-prasarana.html, diakses 1 Januari 2013)

Peraturan Pemerintah Nomer 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,  pasal 1 ayat 8.

Peraturan Pemerintah Nomer 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab VII Pasal 42.

Sarjiman. 2002. Buku Pelatihan Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan PrasaranaJakarta

Soenarto. 2002. Pedoman Manajemen Perlengkapan Sekolah, Pemeliharaan atau PerawatanJakarta

 

Pembenahan Pola Pada Sistem Rekrutmen Guru yang Efektif


Abstrak

Rekrutmen guru yang adil adalah melakukan persiapan rekrutmen guru baru. Persiapan rekrutmen guru baru harus matang sehingga melalui rekrutmen tersebut pemerintah bisa memperoleh guru yang baik. Semakin efektif proses rekrutmen dan seleksi, semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan guru yang tepat. Pengembangan dan perencanaan sistem rekrutmen dan seleksi merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan oleh pemerintah agar proses yang berlangsung cukup lama dan mengeluarkan biaya cukup besar tersebut menjadi tidak sia-sia karena mendapatkan hasil yang berkualitas. Proses rekrutmen guru yang adil meliputi : (1) Persiapan rekrutmen guru. (2) Penyebaran pengumuman penerimaan guru baru. (3) Penerimaan lamaran guru baru. (4) Seleksi pelamar.

Kata Kunci: Rekrutmen, Guru, Efektif.

Continue reading

Perkembangan Peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi


A. Perkembangan Peralatan Teknologi Informasi

1. Surat Kabar

koran contohMerupakan bentuk media informasi yang berisi kabar atau berita yang ditulis dalam bentuk cetakan diatas kertas. Surat kabar pertama kali dibuat di Amerika Serikat dengan nama “Public Occurrences Both Foreign and Domestick” pada tahun 1690. Surat kabar tersebut diusahakan oleh seorang kebangsaan Inggris yang bernama Benjamin Harris. Momentum revolisu industri di tahun 1800-an memacu tumbuhnya penerbitan Koran di Eropa dan Amerika.

Era tahun 1970-an boleh dikatakan awal dari perkembangan surat kabar Indonesia. Dengan manajemen dan produksi secara modern. KOMPAS, Indonesia Raya, PRIORITAS (sekarang menjadi MEDIA INDONESIA, SINAR HARAPAN, dan majalah mingguan TEMPO) adalah surat kabar yang muncul pada era itu.

2. Radio

radio_30-9-09Merupakan alat teknologi informasi yang memanfaatkan teknologi pengirimana dan penerimaan sinyal suara dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Radio digunakan pertama kali oleh pihak maritime untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Radio juga digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut beberapa negara yang terlibat pada Perang Dunia II. Siaran radio mulai dilakukan pada 1920-an. Dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat.

Dengan berkembangnya teknologi radio, sekarang ini ada radio komunitas di Indonesia yang memiliki peran sebagai salah satu bagian dari sistem penyiaran Indonesia. Keberadaan radio komunitas salah satunya bertujuan untuk menciptakan tata pemerintahan yang baik.

3. Televisi

televisionSistem telekomunikasi yang mengirimkan dan menerima gambar dan suara dengan cara mengirimkan sinyal-sinyal elektronik melalui kabel, serat optik, maupun gelombang elektromagnetik. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision. Tele yang mempunyai arti jauh dan vision berarti tampak. Jadi arti televisi secara bahasa adalah tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Awal perkembangan televisi dimulai dari televisi mekanik, televisi elektronik, televisi berwarna, televisi digital, televisi kabel, dan televisi satelit.

B.     Perkembangan Peralatan Teknologi Komunikasi

1. Telepon

wpid-teleponKata telepon berasal dari tele yang berarti jauh dan phone yang berarti suara. Telepon adalah alat komunikasi jarak jauh yang dapat mengirimkan suara melalui sinyal listrik. Telepon merupakan sebuah perangkat yang terdiri dari atas enam bagian utama, gagang, dialing circuit (DTMF tone or Rotary), bel, mikropon, speaker, dan kabel penghubung gagangdengan badan utama.

Penemuan telepon pertama kali oleh Alexander Graham Bell. Penelitian Bell terhadap pembuatan telepon dimulai menggunakan phonatograph, multiple telegraph, dan electric speaking telegraph dari tahun 1873 sampai 1976. Bell mempunyai keinginan untuk menciptakan suatu alat komunikasi dengan transmisi gelombang dengan dibantu oleh Thomas Watson. Pada tanggal 2 Juni 1875, Bell melakukan penelitiandengan menggunakan alat pengatur suara dan magnet untuk menghantarkan bunyiyang akan dikirim.

Akhirnya, terciptanya karya Bell sebuah pesawat penerima telepon dan pemancar yang bentuknya berupa sebuah piringan hitam tipis yang dipasang di depan kumparan elektromagnetik.

2. Faksimili (Mesin Faks)

Image Fax AmazonMesin yang mengerjakan proses pemindaian terhadap sebuah halaman hasil cetakan dan mengubahnya menjadi sinyal yang ditransmisikan melalui sebuah saluran telepon menuju ke sebuah mesin penerima faks. Alat ini merupakan sejenis pesawat telepon yang memiliki fasilitas pengiriman tulisan atau gambar kepada pengguna mesin penerima faksimili yang lain.

3. Telepon Seluler (Handphone)

Sejarah-Telepon-Genggam-300x260Orang United Kingdom (negara-negara di bawah kerajaan Inggris)  menyebutnya dengan istilah mobile, orang Amerika Serikat menyebutnya dengan istiliah cell phone (ponsel), sedangkan orang Inggris menyebutnya dengan sebutan handphone. Di Indonesia, telepon selular sering disebut handphone atau sering disingkat HP, telepon genggam, ataupun Ponsel. Bagaimana cara kerja telepon selular? Ketika menekan suatu rangkaian nomor telepon, telepon selular akan mengeluarkan frekuensi yang sama dengan rangkaian nomor telepon tersebut. Frekuensi itu akan dimodulasi oleh telepon selular untuk dikirim ke menara telepon selular atau sering disebut BTS. Dari BTS, sinyal frekuensi diteruskan ke operator satelit. Kemudian, sinyal dari operator diteiuskan ke satelit. Oleh satelit, sinyal frekuensi diteruskan ke telepon seluler yang memiliki frekuensi tersebut.

PERANAN DAN PENGARUH TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di era sekarang ini dapat dinikmati oleh semua orang. Di dunia pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi sudah tidak diragukan lagi manfaatnya. Melalui internet guru dan siswa dapat mengunduh buku-buku elektronik (e-book) pelajaran secara gratis di internet. Di dunia kesehatan, konsultasi diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan alat teknologi informasi dan komunikasi, misalnya menggunakan telepon atau internet. Sistem administrasi rumah sakit juga tak lepas dari perangkat teknologi informasi dan komunikasi. Di dunia bisnis dan perdagangan, banyak peluang bisnis yang dilakukan melalui internet. Penjualan barang dapat dilakukan melalui internet serta iklan layanan jasa. Bahkan informasi lowongan pekerjaan juga banyak melalui internet.

Kesimpulannya, tidak ada satu instansi pun, yang dapat lepas dari teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-sehari.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa peranan yang sangat penting dalam aktivitas kehidupan manusia.peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktivitas yang dibutuhkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Teknologi informasi dan komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Beberapa penerapan dari teknologi informasi dan komunikasi antara lain dalam perusahaan, dunia bisnis, sektor perbankan, pendidikan, dan kesehatan. Secara umum, teknologi memudahkan manusia untuk saling berhubungan dengan cepat, mudah dan terjangkau serta memiliki potensi mendorong pembangunan masyarakat yang demokratis. Teknologi seperti inilah yang diperlukan untuk membantu rakyat dalam mengorganisasikan dirinya secara efektif dan efisien untuk kesejaterahannya sendiri.

Bentuk-bentuk TIK dalam kehidupan keseharian kita antara lain:

  1. Perembangan pada bidang telekomunikasi, misalnya telepon, faksimili, internet, dan handphone. Dengan kemudahan berkomunikasi, manusia seakan lebih dinamis. Informasi tentang peristiwa ditempat yang jauh dengan mudahnya didapat dengan alat-alat tersebut.
  2. Kehadiran internet sangat mempermudah segala aktivitas dan urusan kita dalam memperoleh dan menyampaikan informasi secara cepat. Internet juga mendorong terjadinya keseragaman gaya hidup, penampilan dan memicu kreatifitas dan ide baru.
  3. Demokrasi menjadi lebih baik karena karakter TIK yang berprinsip kesetaraan sangat sesuai dengan sifat demokrasi karena semua orang dapat mengakses TIK.
  4. TIK mendorong munculnya jenis usaha baru dalam masyarakat yang berbasis internet. Berbagai situs komersial sudah menjadi sesuatu yang umum.

Seperti penjelasan sebelumnya, banyak keuntungan atau manfaat menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dan komunikasi memudahkan pekerjaan di semua aspek atau bidang. Berikut penjelasan manfaat TIK di berbagai bidang:

  1. Manfaat TIK di Bidang Pendidikan
  2. Manfaat TIK di Bidang Keamanan
  3. Manfaat TIK di Bidang Ekonomi
  4. Manfaat TIK di Bidang Hiburan
  5. Manfaat TIK di Bidang Media Informasi
  6. Manfaat TIK di Bidang Kesehatan

Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Komunikasi

Perkembangan jaman ditandai dengan lahirnya teknologi mutakhir yang dirancang untuk membantu umat manusia. Sekarang ini, kehidupan manusia sudah tergantung pada teknologi informasi dan komunikasi ini. Namun, teknologi informasi dan komunikasi juga dapat membawa pengaruh buruk jika tidak digunakan secara bijaksana. Berikut ini adalah dampak negatif dari teknologi informasi dan komunikasi :

  1. Dampak TIK bagi kesehatan, meliputi gangguan mata, gangguan tulang punggung, dll
  2. Dampak TIK terhadap sosial dan psikologis, meliputi ketergantungan, pornografi, antisosial, dll
  3. Dampak TIK pendidikan
  4. Masuknya kebudayaan asing yang buruk

DAFTAR PUSTAKA

Setiadi, Julianto Arief dkk. 2009. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Ristek: Jakarta.
Renol, dan Rasul, Juharis. 2010. Cerdas dan Terampil Teknologi Informasi dan Komunikasi. CV Adi Perkasa: Sidoarjo.

Konsep Dasar Komputer


PENGENALAN KOMPUTER

Sejak tahun 1970-an, komputer telah mengubah cara kerja, cara hidup, dan kebiasaan orang-orang. Sekarang komputer telah menjadi bagian dari hidup manusia sehari-hari. Komputer digunakan dalam berbagai bidang seperti seni, bisnis, transportasi, kedokteran, perbankan, militer, kepolisian, dan pendidikan.

APAKAH KOMPUTER ITU?

Kata “komputer” berasal dari bahasa Inggris “the compute” atau dari bahasa Yunani “computare” yang mempunyai arti menghitung. Komputer merupakan sebuah peralatan elektronik yang menerima data, menyimpang dan memprosesnya sehingga menghasilkan informasi. Data adalah fakta yang masih mentah (belum diolah) yang dapat berupa kata-kata, bunyi-bunyian, angka-angka, atau gambar.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN KOMPUTER 

Keuntungan :

  • Tidak pernah lelah
  • Memiliki kecepatan dan ketelitian yang tinggi dalam mengerjakan fungsinya
  • Memiliki media penyimpanan yang ringkas dan berkapasitas besar
  • Mampu mengolah data dalam jumlah besar
  • Membuka lapangan kerja baru sebagai ahli komputer

Kerugian :

  • Manusia semakin tergantung kepada bantuan komputer
  • Berkurangnya tenaga kerja akibat pekerjanya digantikan oleh komputer
  • Komputer melakukan pekerjaan sesuai dengan pertintah manusia, bila perintah tersebut terdapat kesalahan, komputer tetap mengerjakan kesalahan tersebut

SEJARAH PERKEMBANGAN ALAT HITUNG DAN KOMPUTER

Abacus_1_(PSF)Sekitar 5000 tahun yang lalu, orang Cina menggunakan Abacus untuk membantu melakukan perhitungan. Sampai sekarangpun alat ini masih dipergunakan, bahkan replikanya dikembangkan untuk pelajaran ekstra di sekolah yang disebut dengan Mental Matematika atau Sempoa.

Kemudian mulai tahun 1610 berturut-turut dikembangkan alat hitung yang lebih modern yaitu : Napier’s Bone (1610), Pascaline (1642), Aritmometer (1820). Punch Card (1820-1833), dan Analytical Engine (1833).

EniacKomputer generasi pertama yang terkenal adalah ENIAC (Electronic Numerical Integrator and Calculator) ditemukan pada tahun 1946, komputer ini menggunakan elemen tabung hampa dalam jumlah yang besar, sehingga memerlukan daya dan ruangan sangat besar.

Komputer generasi kedua memiliki ukuran lebih kecil dengan ditemukannya transistor sebagai pengganti tabung hampa.

Komputer generasi ketiga sekitar tahun 1958 ditemukan IC (Integrated Circuit) yaitu transistor yang telah dijadikan satu.

microprocessorKomputer generasi keempat ditandai dengan ditemukannya microprocessor tahun 1971. Microprocessor adalah ribuan transistor yang dikemas dalam sebuah Chip Silicon. Sehingga komputer mempunyai ukuran yang sangat kecil seperti yang sekarang kita temui.

Pada komputer generasi kelima, komputer diarahkan pada perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yaitu membuat komputer yang cerdas yang dapat belajar seperti manusia. Gambarannya sudah ada pada film-film fiksi ilmiah, seperti mobil yang dapat berbicara dengan pengendaranya, atau robot yang dapat diperintah seperti pembantu rumah tangga.

DAFTAR PUSTAKA

TIM MGMP Komputer Surabaya. Buku Kegiatan Siswa Teknologi Informasi dan Komunikasi. Surya Jaya Raya: Surabaya.

Mengenal Teknologi Informasi dan Komunikasi


teknologi-informasi-dan-pengembangannya

Media tradisional seperti media cetak bisa dikatakan sebagai media pengirim informasi satu arah. Berbeda dengan radio dan TV yang diintregasikan dengan kemampuan talkshow didukung fax dan telepon, memungkinkannya informasi yang bersifat dua arah. Kemudian internet, dimana penggunanya cukup melihat judul artikel dan sedikit nrowsing untuk meliat akurasi sebuah berita maka informasi akan lebih cepat sampai dan terjadi interaksi dua arah. Dan biasanya, para pengguna aktif internet sudah memperoleh indeks informasi dari berbagai diskusi di internet (mailing list).

Teknologi informasi sangat baik untuk efisiensi dalam pembangunan jaringan antar media. Disamping itu, teknologi informasi akan memudahkan media mengefisiensi kan proses internal mereka. Misalnya, penggunaan MP3 di radio, internet di telepon seluler, komputerisasi siaran, belum termasuk database berita untuk membangun sumber pengetahuan bagi jurnalis yang sedang membuat laporan. Singkatnya, media tradisional akan tetap berjaya selama bangsa Indonesia masih bodoh dan gagap teknologi (gaptek). (sumber: Artikel “Internet dan Revolusi Media” oleh Onno W. Purbo dengan Perubahan)

Peta Konsep

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang begitu cepat telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia terutama untuk melakukan komunikasi dan mendapatkan informasi tanpa dibatasi oleh waktu. Saat ini, hampir semua aktifitas manusia selalu berhubungan dengan peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di manapun berada. Di rumah, berbagai peralatan elektronik seperti televisi, telepon, CD/DVD player, home theater dan play station mendominasi cara manusia memperoleh dan memberikan informasi. Di kantor, berbagai peralatan seperti komputer, laptop, dan internet juga sangat mendominasi cara kerja manusia modern dalam menghasilkan sebuah informasi dan produk.

Di sekolah, sekarang ini sudah sangat maju dengan masuknya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, komputer, LCD Proyektor, kamera CCTV dan bahkan para pengajarnya sudah banyak yang menggunakan media laptop dan internet sebagai media interactive learning pada para peserta didiknya. Di samping itu, tidak lepas dalam keseharian kita di luar rumah, kantor maupun sekolah selalu menemui peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi seperti telepon seluler, komputer mini (Pocket PC/PDA), dan MP3/mp4 tidak ketinggalan melengkapi kemudahan aktivitas manusia.

 

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

tik2Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat menunjukkan bahwa industri teknologi informasi dan komunikasi dunia sekarang sudah benar-benar kearah mobilitas yang sangat kompleks menembus batasan ruang dan waktu. Oleh karena itu, kita perlu memahami akan keberadaan berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi agar dapat dipergunakan untuk membangun potensi diri kita masing-masing.

Dahulu, manusia mengirimkan surat menggunakan burung merpati sebagai media pengirimannya. Berkat kecerdasan manusia yang merupakan anugerah dari Tuhan, manusia mengembangkan teknologi yang mempermudah pengiriman surat. Email merupakan contoh pengiriman surat melalui media jaringan komputer. Pengiriman surat melalui emaildapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Sarana ini merupakan satu bentuk pengembangan dari teknologi informasi dan komunikasi. Isi surat email adalah pengembangan teknologi informasi, sedangkan jaringan komputer adalah teknologi komunikasi. Apa itu teknologi informasi dan komunikasi? Sebelum menjelaskan hal itu, kita pelajari dahulu pengertian informasi dan komunikasi.

Informasi merupakan kumpulan data yang saling terkait yang telah diproses secara kompleks. Dengan kata lain, informasi merupakan hasil dari sebuah data yang telah diproses. Data-data yang tercatat dan saling terkait dikumpulkan, kemudian diolah melalui proses sehingga menghasilkan informasi yang tepat dan akurat. Selanjutnya, informasi menjadi data yang akan diolah dan akan menjadi informasi yang lainnya.

Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian informasi berupa pesan, ide, atau gagasan dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Ada dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik berupa lisan atau tulisan. Komunikasi nonverbal merupakan pengganti ataupun pendukung dari komunikasi verbal. Contoh dari komunikasi nonverbal adalah gerakan badan yang menunjukan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, atau mengangkat bahu.

Komunikasi harus memenuhi beberapa komponen agar komunikasi berlangsung dengan baik. Menurut laswell, komponen-komponen komunikasi adalah sebagai berikut:

  • Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain yaitu komunikan.
  • Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan komunikator kepada komunikan.
  • Saluran (chanel) adalah media yang digunakan komunikator untuk mengirimkan pesannya kepada komunikan. Dalam komunikasi atau percakapan antar pribadi secara langsung (tatap muka), saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
  • Penerima atau komunikan (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain.
  • Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari komunikasi pesan atau isi pesan yang disampaikan.

Apakah contohnya? Kita dapat melihatnya pada seorang hansip yang menyembunyikan kentongan tanda kebakaran di pos kamling agar didengarkan warga masyarakat di sekitar pos kamling. Hansip tersebut adalah komunikator. Suara kentongan adalah pesan. Udara yang menjadi media penyebaran kentongan adalah saluran (channel). Warga masyarakat pos yang mendegar suara kentongan adalah komunikan. Selanjutnya, warga masyarakat tersebut merespon suara kentongan dengan bergegas keluar rumah untuk melihat dimana kebakaran terjadi. Respon warga masyarakat inilah yang disebut feedback.

Teknologi informasi dan komunikasi yang sering disingkat TIK merupakan istilah dari bahasa inggris yaitu ICT (Information and Communication Technology). teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses manipulasi data dan pengelolaan informasi. teknologi komunikasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses penyampaian atau pengiriman informasi dari pengirim ke penerima. Dari pengertian teknologi informasi dan teknologi komunikasi kedua teknologi tersebut merupakan teknologi padaan tak terpisahkan, artinya kedua teknologi itu saling berkaitan erat satu sama lain. teknologi informasi dan komunikasi merupakan segala bentuk kegiatan yang terkait dengan proses manipulasi, pengelolaan dan pemindahan informasi dari pengirim ke penerima.

Pengetahuan TIK membantu kita agar mengenal, menggunakan, dan merawat peralatan yang berhubungan dengan TIK. Selain itu kita harus mengembangkan potensi kita untuk mengembangkan TIK yang sudah ada sekarang. Dengan TIK kualitas kehidupan manusia di berbagai bidang menjadi meningkat.

Definisi Teknologi Informasi dan Komunikasi

Sebelum menyebutkan tentang teknologi informasi dan komunikasi, marilah kita melihat sejarah awalnya komunikasi dilakukan. Tentu kamu masih ingat ketika belajar sejarah bersama gurumu bahwa pada zaman dahulu manusia melakukan komunikasi dengan menggunakan kata-kata, kode-kode, bunyi-bunyi dan berbagai bentuk simbol tertentu untuk menyampaikan informasi berupa ide atau gagasan walau hanya sekedar mengobrol, hal itu karena mereka belum mengenal tulisan.

Kemudian, komunikasi berkembang sampai sekarang menggunakan gambar dan tulisan dengan berbagai alat bantu seperti surat, email, bahkan sampai menggunakan fasilitas teleconference yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dalam waktu yang bersamaan.

Dalam kehidupan sehari-hari dapat dicontohkan misalnya dengan membandingkan antara surat dengan email. Zaman dulu orang mengirim surat ke kantor pos dan dalam beberapa hari baru sampai ke tempat tujuan. Dengan adanya internet, mengirim surat dapat dilakukan melalui fasilitas email dan pesan akan sampai dalam hitungan beberapa detik saja.

Jadi, apa yang dimaksud teknologi informasi dan komunikasi? Agar kamu lebih mudah mempelajarinya, pahamilah teknologi informasi dan komunikasi berikut ini :

  • Teknologi informasi dan komunikasi terdiri dari dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi adalah segala hal yang berkaitan dengan proses manipulasi dan prmprosesan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan proses menyampaikan informasi dari pengirim ke penerima.
  • Menurut haag dan keen (1906), teknologi informasi adalah seperangkat alat yang digunakan untuk membantu tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan data.
  • Menurut Martin (1999), teknologi tak hanya terbatas pada teknologi komputer (hardware dan software)yang digunakan dalam pemprosesan informasi, melainkan mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.
  • Menurut Williams dan Sawyer (2003), teknologi informasi adalah penggabungan komputasi yaitu komputer dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video.
  • Teknologi informasi dan komunikasi sering disingkat TIK atau ICT (information and communication technology). Ada juga yang menyebut dengan istilah “telematika” yaitu singkatan dari telekomunikasi dan informatika.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi diartikan sebagai teknologi untuk memperoleh, mengolah, menyimpan, dan menyebarkan berbagaijenis file informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir dari dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas baru yang dapat mengatasi segala kemalasan dan kelambatan kinerja manusia.

DAFTAR PUSTAKA

TIM MGMP Komputer Surabaya. Buku Kegiatan Siswa Teknologi Informasi dan Komunikasi. Surya Jaya Raya: Surabaya.
Setiadi, Julianto Arief dkk. 2009. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Ristek: Jakarta.
Renol, dan Rasul, Juharis. 2010. Cerdas dan Terampil Teknologi Informasi dan Komunikasi. CV Adi Perkasa: Sidoarjo.